Peta Gerakan Islam

Mainmain – Hadirnya agama Islam ke dunia, bukan hanya soal pembaruan dan melengkapi atau menyempurnakan ajaran agama yang sudah ada sebelumnya. Jauh daripada itu, kemunculan Islam adalah contoh nyata untuk pembelajaran semua umat manusia yang ada di muka bumi. Sebagaimana slogan Rahmatan lil Alamin—yang melekat pada Islam—yang jamak dan akrab kita dengar, tiada lain berarti kasih sayang untuk seluruh alam. Kasih sayang untuk seluruh alam bisa diartikan atau ditafsirkan secara luas dan berbeda-beda. Tetapi intinya tetap menemui kesamaan, yaitu kasih sayang yang tanpa memandang perbedaann yang ada.

Daftar Isi

Arab dan Kedatangan Islam

Arab sebagai latar tempat pertama kali turunnya Islam, menjadi contoh yang tepat untuk wilayah lain. Waktu itu, Arab adalah wilayah yang penuh dengan kekacauan. Mulai dari menyembah berhala, pertikaian antar suku atau perebutan kekuasaan, dan tingkat ketidakpercayaan kepada hal yang baru menjadi ciri khasnya. Kondisi demikian yang menjadikan eksistensi Islam di masa awal kemunculannya bukanlah suatu hal yang mudah. Dengan kata lain, Islam hadir pertama kali di tempat yang sebenarnya tidak menerimanya, dan cenderung menolak Islam itu sendiri.

Meski tidak dapat dikategorikan sebagai hal yang mustahil, tetapi tetap saja menjadikan perkembangan dan penyeberan Islam pada waktu itu adalah hal yang sangat sulit untuk dicapai. Dewasa ini, kita sering kali menemui fakta umat muslim yang berkebalikan dengan Islam pada masa Rasulullah. Di mana sering terjadi pemaksaan yang mengatasnamakan Islam itu sendiri. Padahal, Rasulullah sang aktor pembawa agama Islam sendiri, tidak pernah memaksakan kehendaknya. Apalagi menggunakan kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Secara tidak langsung, bisa kita nilai bahwa Rasulullah adalah seorang revolusioner, yang membawa kemasalahatan untuk seluruh umat manusia.

Jika kita mencermati wahyu pertama yaitu iqra’ (baca) yang turun kepada Rasulullah, sebenarnya sudah bisa diambil sebagai bahan pembelajaran. Bagaimana mungkin, seorang yang buta huruf tetapi diperintahkan untuk membaca? Padahal masih banyak perintah lain yang seharusnya bisa lebih melengkapi agama yang sudah ada sebelumnya. Hal ini tidak lain bisa diartikan sebagai suatu perintah yang tidak bermakna literer (secara tertulis). Melainkan membaca fenomena Arab dan wilayah yang ada di sekitarnya waktu itu.

Dalam hal ini, bukan berarti kita harus mengglamorkan pencapaian serta kejayaan Islam di masa-masa awal. Sebab, yang perlu diketahui dan diingat bersama ialah, kondisi Islam di masa-masa awal juga penuh dengan pertumpahan darah. Hal ini yang kemudian sering dihilangkan atau ditutup-tutupi oleh para pengusung paham kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist.

Namun, setelah mengetahui fakta bahwa Islam penuh dengan cerita kelam di masa-masa awalnya, tidak lantas menjadikan kita untuk ragu kepada agama yang kita peluk. Akan tetapi, seharusnya lebih giat lagi mendalami nilai-nilai serta pesan-pesan yang ada untuk dijadikan pegangan. Sebagai contoh, bagaimana bisa kita langsung percaya pada pengusung paham kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist, sedangkan di masa Rasulullah Al-Qur’an sebagaimana yang kita ketahui bentuknya sekarang ini belumlah ada?

Era Para Sahabat

Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq memegang peran yang vital sepeninggalnya Rasulullah. Kebingungan dan perdebatan yang terjadi di kalangan umat Islam pada waktu itu, melahirkan sosok pemimpin—dan yang paling memungkinkan—untuk menggantikan Rasulullah. Di era kepemimpinan Abu Bakar lah teks Al-Qur’an mulai dikumpulkan—sesuai saran Sayyidina ‘Umar bin Khattab—tetapi belum dibukukan.

Penyebaran Islam di era Abu Bakar membawa Islam hingga ke Syria sekaligus kunci utama runtuhnya kekuasaan Byzantium di tanah Arab. Selain memfokuskan usaha untuk menyebarkan Islam secara luas, di era Abu Bakar pula percikan pemberontakan di kalangan umat Islam pertama kali terjadi. Tetapi hal tersebut bisa diatasi olehnya dan tetap mempertahankan keutuhan umat Islam pada waktu itu.

Sepeninggalnya Abu Bakar, sosok pemimpin berganti kepada Umar bin Khattab. Sosok yang dijuluki Singa gurun atau padang pasir ini, melanjutkan perjuangan Abu Bakar hingga bisa menaklukkan bangsa Persia dan Romawi yang mengancam eksistensi Islam pada waktu itu. Di era kepemimpinan Umar pula, Islam akhirnya bisa menaklukkan Mesir dan menyebar luas hingga ke Afrika Utara.

Umar adalah sosok pemimpin cakap yang mampu mengatur wilayah yang dipimpinnya. Dalam hal keamanan dan ketertiban masyarakat, Umar membangun lembaga kepolisian dan pos-pos militer di tempat yang strategis. Sedangkan di bidang hukum, Umar adalah orang pertama yang melakukan pembenaran peradilan Islam dengan menyusun prinsip peradilan dan dijadikan sebuah risalah. Bisa disimpulkan bahwa peninggalan berharga Umar sangat berpengaruh untuk menata konsep masyarakat yang masih penuh kerusuhan.

Era kepempinan dilanjutkan oleh Sayyidina Utsman bin Affan. Pada era Utsman lah mushaf Al-Qur’an yang kita kenal sekarang baru terwujud. Utsman juga sosok pemimpin yang mencetuskan perlunya angkatan laut untuk umat Islam pada waktu itu. Di era Utsman, pengetahuan yang dimiliki oleh umat Islam pun semakin berkembang, karena adanya pertukaran pemikiran yang masif seiring meluasnya Islam pada waktu itu.

Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah khalifah terakhir sebelum adanya perpecahan di kalangan umat Islam. Di zaman Ali pula pemberontakan terlihat sangat nyata yang berujung pada pelemahan Islam itu sendiri. Meski begitu, penyebaran Islam sendiri tidak berhenti ketika era Ali. Bahkan, Islam bisa meluas sampai ke India. Ali sekaligus menjadi sosok yang memperbaiki tata pemerintahan dan mengganti orang-orang yang tidak cakap dalam memimpin dari era Utsman. Di Era Ali pula kemajuan ilmu nahwu atau bahasa Arab  berkembang pesat. Era kepemimpinan Khulafur Rasyidin diakhiri dengan terbunuhnya Ali dan pecahnya Islam menjadi sekte-sekte. Mulai dari Khawarij, Syiah, Murjiah, Qadariyah, Muktazilah dan Jahmiyah.

Era Turki Usmani

Kemunculan dinasti Turki Usmani adalah pecahan atau turunan dari kekuasaan pemerintahan Abbasiyah yang memerintah secara absolut. Kerajaan Turki didirikan oleh suku-suku pengembara yang menetap di wilayah Asia kecil. Awalnya kerajaan Turki Usmani adalah kerajaan yang memiliki wilayah terbilang kecil. Keberhasilan kerajaan Turki Usmani ditopang oleh banyak faktor. Di antaranya adalah keunggulann politik para pimpinannya, keberanian, ketangguhan, keterampilan serta kekuatan militernya yang mampu bertempur kapan saja dan di mana  saja. Hal ini pula yang kemudian menjadikan Kerajaan Turki Usmani bisa bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama.

Selain di bidang politik dan militernya, nyatanya kerajaan Turki Usmani adalah kerajaan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan budaya. Perpaduan bermacam kebudayaan menjadi ciri khasnya. Mulai dari Bizantium, Arab, dan Persia. Secara tidak langsung, bisa disebut bahwa orang-orang Turki Usmani adalah orang-orang yang berpandangan luas dan mampu beradaptasi dengan banyak budaya. Dengan memadukan banyak budaya, orang-orang Turki Usmani mampu menyerap banyak ilmu pengetahuan. Mulai dari pemerintahan dan kemiliteran, ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, hingga etika dan tata krama.

Tradisi keagamaan dalam masyarakat Turki Usmani memegang peranan yang besar. Bahkan masyarakat pada waktu itu digolongkan berdasarkan agamanya. Selain itu, tarekat juga mengalami perkembangan yang pesat ketika di era Turki Usmani. Dan terekat sendiri terbilang memiliki pengaruh yang dominan waktu itu. Meski demikian, perkembangan ilmu agama mulai dari hadist, tafsir, fiqih dan ilmu kalam tidak mengalami perkembangan yang berarti, dan para penguasa waktu itu lebih cenderung memonopoli mazhab sembari menekan mazhab yang dianggap mengganggu atau mengancam eksistensi kerajaan.

Pencapaian serta prestasi era Turki Usmani salah satunya yaitu perluasan wilayah Islam. Di zaman Turki Usmani lah Islam bisa sampai ke benua Eropa, khususnya Eropa timur yang belum masuk ke wilayah kekuasaan Islam saat itu.

Kemunduran Turki Usmani ditandai dengan cepatnya perkembangan Islam pada waktu itu. Selain belum menyiapkan secara matang penataan sistem pemerintahan, waktu itu muncul budaya pungli yang masif. Faktor lainnya ialah kemerosotan perkembangan teknologi, lantaran Turki Usmani hanya mementingkan kekuatan militernya.  Hal ini dibuktikan ketika seringnya kekalahan yang dialami Turki Usmani dalam perang melawan orang Eropa yang secara persenjatan lebih maju dan modern.

Islam saat Ini

Bicara tentang peta gerakan Islam saat ini, sulit dilepaskan dari kajian Islam Transnasional. Bermacam kondisi yang terjadi dunia Islam dewasa ini, memicu banyak lahirnya gerakan Islam yang mempunyai paham serta afiliasi yang menentang paham moderat. Hal ini yang selanjutnya mengharuskan kaum Nahdliyin untuk mempertahakan paham moderat yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia. Selain berkepentingan terhadap citra Islam kontemporer di mata dunia, mempertahankan paham Islam moderat dalam ranah nasional menjadi salah satu bukti penghargaan pada jasa para Walisongo.

Peta gerakan Islam transnasional yang dimaksud di sini, ialah gerakan Islam yang mencampuradukkan paham spiritual dan politik menjadi satu. Gerakan Islam Transnasional antara lain yaitu Ahmadiyah, Jamaah Tablig, Hizbuttahrir Indonesia (HTI), Wahabi, dan masih banyak lagi. Dampak dari adanya gerakan transnasional sendiir, bisa kita lihat dari semakin berkembangnya wacana untuk mengusung kembali khilafah. Kesalahpahaman semacam ini, adalah efek dari minimnya pengetahuan mengenai era kekhalifahan itu sendiri.

Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, masa kejayaan Islam tidak hanya berisi hal yang baik-baik saja. Lebih tepatnya, sejarah Islam juga dipenuhi pertumpahan darah yang tidak sedikit, dan termasuk di era kejayaan Islam atau era khilafah yang coba dihidupkan kembali itu. Hal ini pula yang secara tidak langsung menjadikan pentingnya peran generasi muda Nahdliyin khususnya PMII itu sendiri, untuk menciptakan wacana tandingan yang mampu mengimbangi masifnya penyebaran paham Islam transnasional ini.

Sekalipun sudah masuk dalam agenda pemerintah untuk menekan penyebaran paham Islam transnasional, tetap saja PMII harus menciptakan ciri khas ala PMII itu sendiri. Sebagai sebuah organisasi yang mengusung nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, sudah menjadi tugas PMII untuk menyebarkan paham serta mewujudkan kesadaran insan muslim Indonesia. Salah satu contoh kecilnya ialah tetap mengkampanyekan serta mengamalkan nilai-nilai keadilan, toleransi, moderat, kemanusiaan dan kebenaran.

Memasuki era pasca Reformasi, tugas PMII dalam mempertahankan Islam moderat sendiri bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan dengan semakin meningkatnya wacana Islam urban yang mudah ditemui di wilayah perkotaan. Oleh karena itu pula menjadi penting penguasaan teknologi untuk kader PMII dewasa ini. Sebab, efek yang paling terlihat ialah kampanye yang terdapat di dunia digital, dan tidak bisa diabaikan begitu saja dampak yang dihasilkan olehnya.

Sebagai barisan neo-tradisionalis dan post-tradisionalis, yang menjunjung tinggi perbedaan pendapat serta keragaman yang ada, seharusnya dapat menjadi modal awal bagi PMII untuk terus berkembang dan menyesuaikan kondisi sembari mencari jalan terbaik dari peta gerakan Islam saat ini.Dengan tidak melupakan sejarah Islam dari era Rasulullah hingga saat ini, seharusnya PMII bisa menjadi barisan paling moderat yang melindungi persatuan. Baik itu persatuan di kalangan umat Islam dan rakyat Indonesia itu sendiri.

Tinggalkan komentar