Seperti Kasam, Nestapa Harus Dibayar Tandas

Seperti Kasam, Nestapa Harus Dibayar Tandas
IDENTITAS BUKU
Judul: Kelir Slindet
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Maret, 2014
Halaman: 256 hlm

Tanah Sunda, tanah Parahyangan, selalu punya kesan tersendiri dalam benak saya. Awalnya, pengetahuan saya tentangnya hanya bersumber dari acara di layar televisi. Melalui dua acara pada sore hari yang berjudul Jika Aku Menjadi dan Orang-orang Pinggiran, gambaran soal Sunda dan orang-orangnya terpatri lekat di pikiran saya. Tidak sebatas itu saja, identiknya orang Sunda dengan segala kesusahan yang digambarkan dua acara tadi, sampai hari ini tetap membekaskan kenangan terhadap saya.

Selain itu, tanah Sunda adalah tanahnya pulau Jawa yang pertama kali saya lihat. Bukan hanya lantaran saya berasal dari barat pulau Jawa, tetapi karena saya pertama kali ke Jawa juga memilih menempuh jalur darat. Sulit untuk dipungkiri, bahwa saya kagum dengan segala keindahan yang ditampilkan olehnya. Saya merasa amat jauh berbeda dengan pulau asal saya. Ada semacam suasana yang sulit untuk saya jelaskan. Walaupun bisa jadi itu hanyalah sekadar rasa takjub dari seorang bocah, yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam tempurung.

Singkat cerita, setelah sampai di Yogyakarta, saya akhirnya mempunyai teman yang berasal dari Sunda. Saya pun tambah mengenal Sunda lewat mereka. Banyak cerita menarik nan unik yang berhasil saya dapat dan himpun. Juga banyak kekonyolan serta hal-hal baru yang saya temukan pada teman-teman saya yang berasal dari Sunda ini. Hingga pada akhirnya, saya seperti mendapati ciri khas yang melekat pada orang Sunda secara umum. Ciri khas tersebut terekam serta terlukiskan dari tulisan-tulisan teman saya ini, dan tak luput membuat saya penasaran.

Entah kenapa, saya akan menjadi sangat penasaran, jika sudah bersinggungan dengan perihal yang menyebabkan kemiskinan, kesulitan, ketidakadilan berserta turunannya. Seperti yang sudah saya singgung di pembuka tulisan ini, rasa penasaran saya itu seputar ciri khas orang Sunda yang dikonstruk oleh saluran TV yang menghiasi masa kecil saya. Rasa penasaran tersebut akhirnya terbayar tuntas, setelah saya berhasil menyelesaikan membaca buku Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha.

Buku ini tidak sekadar menjawab penasaran saya tadi, akan tetapi menjelaskan asal-muasal persoalan tersebut sampai ke akarnya. Anehnya lagi, semua itu seperti tertuang begitu saja dalam bukunya ini. Barangkali, buku ini bisa bisa saya sebut semacam kumpulan dendam, yang dibuat oleh Kedung tampak begitu menyakitkan serta menyayat-nyayat. Dalam hal ini, bisa dibilang kalau Kedung adalah penulis sekaligus pendendam ulung. Pendendam ulung lantaran ia mampu menyalurkan hasrat dendamnya yang kuat itu.

Jika musim kemarau tiba, jika pasokan padi sudah surut, mereka akan berbondong-bondong ke Jakarta. Mencari kerja, apa pun profesinya (hlm 9). Realitas yang dipotret Kedung dalam bukunya ini, seperti wakil dari banyak realitas yang terjadi di desa-desa lain. Bukan soal merantau ke Jakarta yang menjadi sorotan saya, tetapi soal alih profesi karena disebabkan kondisi yang ada. Secara tidak langsung, buku ini juga mewakili perasaan saya sebagai seorang anak, ketika menyaksikan orang tuanya pergi merantau untuk menghidupi kami sekeluarga.

Memang benar kiranya, perubahan yang cepat dan ketakterdugaan itu adalah teman akrab orang-orang miskin. Sama seperti saya hari ini, yang masih selalu mencoba akrab dan mengenal lebih lanjut ketidakpastian. Boleh jadi, buku ini tidak lagi sekadar potret kelamnya masyarakat desa saja, tetapi juga mengingatkan kita pada rahasia umum yang sulit untuk ditampik. Di sinilah keunggulan lain seorang Kedung saya rasa. Ia mampu menunjukkan bahwa langgengnya kemiskinan itu tidak hanya dipengaruhi oleh sedikit faktor saja, namun sudah kusut seperti jaring laba-laba yang rusak.

Membaca buku ini, saya seperti menemukan diri saya yang lain pada sosok Muhaimin alias Mukimin. Tindakan serta perilakunya yang awut-awutan, mengingatkan saya pada selang waktu beberapa tahun lalu, di saat saya masih semrawut dan selalu ingin memberontak. Tokoh Mukimin menjadi favorit saya dalam buku ini. Sebab Mukimin adalah simbol pembangkang pada otoritas yang mengungkung sedemikian rupa. Dan tidak berhenti sampai di situ, Mukimin bagi saya adalah wakil dari jiwa-jiwa yang menginginkan kebebasan.

Buku ini sangat jelas menyajikan begitu banyak konflik di dalamnya. Konflik yang tersebar seakan dirajut oleh Kedung dalam sebuah rangkaian yang indah. Dengan menaruh kisah percintaan dari sepasang remaja, Kedung berhasil menyisipkan banyak hal lain dengan akurasi tinggi. Dari kisah percintaannya Mukimin dan Safitri yang berbeda latar belakang, Mukimin dan Safitri bagaikan “menjemput hujan”. Menjemput hujan di sini bisa kita artikan sudah siap dengans segala risiko yang ada, termasuk tersambar petir sekalipun.

Beda Mukimin, beda lagi sang kakak Musthafa yang menjadi ustadz di kampungnya. Musthafa adalah perwakilan orang-orang munafik yang selalu merasa bahwa mereka suci tanpa cela. Musthafa juga representasi orang-orang yang merasa bahwa apa yang mereka pikirkan adalah kebenaran yang sejati. Sedangkan realitas yang sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum orang-orang ini dimelekkan oleh hal yang memabukkan, adalah hal yang salah dan tidak dapat ditoleransi.

Slindet, pada akhirnya bukan cuma sebuah karya yang lahir karena perjalan mata saja. Lebih dari itu, Slindet adalah karya dan bukti yang hadir dari perjalanan seluruh panca indera. Karya yang muncul dari lembaran kehidupan, yang terkadang penuh noda, dan ada kalanya bersih seputih kain kafan yang baru. Membaca buku ini, kita akan terbawa oleh arus yang begitu deras, dan seakan seperti mimpi di siang bolong. Ketakutan tidak lagi menjadi momok yang mengerikan, bahkan ketakutan berubah menjadi tanda kalau kita masih menyimpan sedikit keberanian.

Buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh orang-orang yang berasal dari desa seperti saya. Buku ini adalah jembatan bagi orang desa dan orang kota. Buku ini juga seperti penghubung dari banyaknya perbedaan kebiasaan dan kebudayaan yang ada. Meskipun mengambil latar tempat Indramayu, buku ini seperti wajah ensiklopedi Indonesia. Buku ini menawarakan banyak warna di dalamnya. Warna-warna inilah yang nantinya coba diberikan Kedung kepada kita, bahwa berbeda warna adalah tanda bagi kita untuk lebih saling mengenal dan memahami satu sama lain.

Check Also

Mutiara Hitam yang Mendewasakan Peradaban Kita

Mainmain – Kebiasaan meminum kopi, nyatanya tidak pernah dibarengi dengan pemahaman tentang sejarah kopi itu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *