Generasi Milenial

Generasi Milenial
Penulis: Vander Setia Nugraha

Malam minggu adalah waktu bagi jamaah remaja untuk melaksanakan ibadahnya. Ibadah malam minggu ini banyak jenisnya, ada ibadah ngopi, ibadah ngaji sampai ibadah menangis di kamar sendiri.

Malam minggu kadang terasa lebih lama bagi saya, ketimbang malam-malam sebelumnya, dan sebenarnya ini tergantung dari status yang menikmati. Malam minggu buat sebagian orang meresahkan, karena membuat hati tak tenang jika ada yang bertanya, baik itu dari kawan apalagi rival. Terlebih lagi pertanyaan yang tanpa ada kata pengantar sebelumnya, semisal ketika pertanyaan ini tiba-tiba masuk kedalam gawai di tengah waktu santai, dengan tanda tanya yang banyak diujung pertanyaan.

Berbicara malam minggu, juga penuh misteri sebenarnya. Malam yang di satu sisi dibenci oleh generasi tua, di satu sisi disenangi oleh generasi muda, dan disisi lain akan dibenci juga oleh generasi muda yang nantinya akan jadi tua.

Setelah aktivitas yang padat pada siang hari, kebanyakan orang lebih memilih menghadapi dunia malam dengan istirahat, tentunya ini menurut kebanyakan orang—yang mengklaim—normal. Tetapi juga banyak orang—yang mengklaim—normal masih melanjutkan aktivitasnya di malam hari. Mulai dengan alasan menambah rejeki, mencari inspirasi atau cuma sekedar menghirup segelas kopi.

Akan berbanding terbalik tentunya dengan orang yang—dituduh—tidak normal ketika menghadapi dunia malam. Mereka memulai harinya dengan senyum yang tertutup gelapnya malam, dan dianggap menyalahi norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Anehnya lagi, kelompok ini malah sering dianggap pengganggu masyarakat, perusak etika dan jamaah pembawa hal negatif. Akhirnya, seperti itulah bentuk kelompok masyarakat yang terbelah menjadi dua bagian. Ada yang memilih istirahat di waktu pagi dan ada yang memilih istirahat di waktu malam.

Jamaah remaja otomatis bingung, melihat kondisi masyarakat yang terbelah menjadi dua bagian ini. Lantaran saya juga termasuk bagian dari jamaah remaja, saya juga mengalami kebingungan.

Jika saya lebih memilih mengikuti masyarakat—yang mengklaim—normal, apabila saya berbeda dari mereka, dan dianggap tidak pro terhadap masa mudanya, menyianyiakan kesempatan emas karena masih bujang, dan kemungkinan terburuknya saya akan menjadi golongan anak mama.

Jika saya lantas memilih masuk dalam golongan masyarakat–yang dituduh—tidak normal tadi, maka setidaknya saya harus bersiap dianggap meremehkan nasihat orang tua, dinilai sebagai produk buruk masyarakat, serta penggangu stabilitas kehidupan sehari-hari.

Karena bingung itu tidak enak, tetapi lebih baik ketimbang menunggu, saya coba menggali informasi lebih kenapa masyarakat harus menjadi dua kelompok.

Saya pernah mencoba mengumpulkan teman-teman dekat saya, lalu saya lontarkan pertanyaan kepada mereka, “Kenapa kiranya masyarakat harus terbelah menjadi dua kelompok tadi? Kenapa tidak satu pandangan saja? Kenapa harus saling menyalahkan satu sama lain?” Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya.

Saya rasa, akan lebih enak jika masyarakat saling mendukung dan menghilangkan kecurigaan yang tidak berdasar itu. Lebih baiknya lagi, jika kita mampu membuang prasangka buruk tersebut, dan mengalihkannya kepada hal yang lebih produktif.

Ada teman yang berpendapat bahwa itu hal yang wajar. Ada pula yang menganggap itu sebagai sebuah keganjalan, dan ada malah yang mengusulkan kalau itu perlu diusut.

Saya pribadi lebih tertarik dengan respon terakhir tadi. Saya otomatis langsung mengarahkan pembicaraan di pertemuan itu ke arah sana. Tanpa disadari, teman-teman yang lain juga terbawa arus dan mampu saya pengaruhi.

Banyak usulan yang berdatangan. Ada yang mengajukan usulan untuk mewancarai masyarakat yang ada di komplek perumahan di tempat saya tinggal, ada yang mengajak untuk mengusut kasus tersebut ala detektif Conan, dan ada yang mengajak untuk mengadakan sidang.

Setelah dipikir secara matang, menurut nalar remaja di antara kami yang berstatus sebagai anak generasi milineal, kami pun akhirnya sepakat bahwa usulan untuk mewawancarai itu kurang pas. Sebab kami semua tidak punya bakat sebagai wartawan.

Tawaran kedua juga tidak bisa kami lakukan, karena kami juga tidak ada yang mempunyai bakat seperti detektif Conan. Terlebih lagi kasus yang sering dihadapi detektif Conan adalah kasus pembunuhan, sedangkan kasus yang akan kami usut adalah kasus yang dikatakan jauh dari kata pembunuhan. Sehingga, kesepakatan yang menjadi jalan terakhir adalah sidang!

Sidang yang nantinya akan kami lakukan adalah sidang pertama bagi saya dan kelompok saya, sebab kami semua belum mempunyai pengalaman sidang sama sekali. Kami mengalami yang namanya ‘titik buta’. Tapi bukan kami jika langsung menyerah, karena kami adalah Generasi Mileneal.

Kami mulai searching di Google, di YouTube, di Instagram dan banyak media sosial lainnya. Banyak sekali yang menjelaskan mulai dari syarat dasar persidangan sampai bagaimana mekanisme persidangan. Setelah mencatat semua yang diperlukan, kami pun sepakat kalau sidang akan dilaksanakan berbarengan dengan acara karnaval yang ada didaerah saya.

Disepakati untuk tempat persidangan nanti digelar di daerah kampus terdekat dengan komplek perumahan kami. Untuk waktu pelaksanaannya, dengan banyak pertimbangan, kami memilih waktu malam hari. Selain suasananya kondusif pada malam hari, siang hari tidak memungkinkan kami untuk melakukan sidang karena jadwal yang padat.

Untuk menghubungi teman-teman yang kebetulan tidak bisa hadir dipertemuan bersejarah itu, kami membagi tugas untuk menghubungi teman-teman yang lain, dan minta partisipasinya secara penuh. Karena bisa jadi hal yang bersejarah seperti itu tidak akan terulang seribu tahun ke depan.

Beruntungnya, saya yang mendapat tugas untuk menghubungi teman-teman untuk hadir di pertemuan bersejarah nanti. Keresehan pribadi yang merambat menjadi keresahan bersama ini menjadi bekal saya, dan ide cemerlang sudah berada di benak saya waktu itu.

Saya berencana menghubungi teman-teman lewat surat yang akan saya titipkan lewat burung biru. Semoga pesan yang saya titipkan di burung biru itu akan sampai, dan dibaca oleh teman-teman yang sudah dipilih secara rinci sesuai kriteria Generasi Milenial.

Check Also

Mutiara Hitam yang Mendewasakan Peradaban Kita

Mainmain – Kebiasaan meminum kopi, nyatanya tidak pernah dibarengi dengan pemahaman tentang sejarah kopi itu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *