Salah Arah dan Puisi Lainnya

Hitam dan Abu

Kemarilah daraku, kau tahu caraku untuk membuat silsilah luka
Melera segala peristiwa perihal kau dialam baka
Pusaramu selalu saja menangis

Menanti datangnya purnama sempurna
Terpelanting jauh kata-kata dalam makna
Menanggung jiwa-jiwa bertaji
Kurasuki kata sebagai tandaku cinta padanya

Menggeser awan dari kerumunan burung camar hilang ditelan
Padang ilalang
Mengembara di jelaga para penista
Bunga kamboja semerbak wangi

Menelisik waktu menjemput subuh
Secuil api meranggas segala yang pantas
Ribang di kala senja tak lagi melahap derita
Laju waktu tergelapar di atas tanah tak bernafas

Doa-doa mewangi serupa pelangi
Tak berwarna dan nirwana sirna
Barangkali warnannya telah luntur
Oleh wabah tumpah yang terulur dari langit

Adalah kau, tersulut di kerumunan para penyair
Matamu seperti pintu-pintu masa lalu
Selalu mengajakku pulang
Di kala renjana menabuh dada sang pencinta

Dosa telah mengenalku
Semenjak kita berpisah
Dan jalan berkelok-berliku
Kau mewariskan ingatan-ingatan
Sebelumku lumurkan warna hitam dan abu-abu

(2020)

SelamaNya

Berhias mendung wajahmu memalingkan segala sisa usiamu
Malam terbuat dari jam delapan
Menukil awan yang berasal dari mulut orang
Membangun gunung di atas kertas
Lenguhan kerbau menjepit punggung rawa

Mencari duri dalam belah semangka
Katanya ada sebutir benih yang mampu menggedor tubuh seorang
Mata pisau sering mengelak
Ia berhenti berdenyut dan beralih menjadi pohon-pohon yang bersalah

Langit bertemu berubah semu kebiruan
Tugasmu belum selesai jadi bayi
Lesap dibawa angin
Kepada bulan berwarna hitam yang dingin

Sebelum kau terbuat dari tulang rusukku
Kau lebih dulu mengimani apa yang belum kau injak
Lidah-lidah tersambung menjulur kearahmu

Seputih rambut
Sepekat kalut
Mengunci setiap inci demi inci
Di sebuah kotarium yang ciamik

Hujan-hujan membuat cerita tentang seorang pria yang gagal menjadi manusia ketika ia tidur terlelap
Ia bertanya selamanya cinta
Selamanya
Cinta

Yogyakarta, 2021.

Sekuntum Bunga pada Sebuah Telinga

Derap kuda perlahan hilang ditelan kesunyian,
Puan membasuh luka
Dengan air mata yang mengalir di antara hidup dan matinya

Inginku tumbuhi kelopak bunga di dada dan mataku
Agar kau melihatnya tanpa beranjak lalu
Berkilauan sambil menutup mata dan telinga

Menjelang maghrib, matahari mengabaikan malam dan juga bayangmu
Menjaring bidadari yang keluar malam dan tersangkut di kedua alismu
Berpindah dari tangan ke tangan yang lain
Pewaris ingatan dara para puan anjing
Berbingkis lukisan gurat tipis bayangmu

Gelembung itu pecah sebelum kau meniupnya
Terkubur dengan dongeng-dongeng negeri malam
Permadani yang gersang
Pemuja kerang ajaib
Beriman dan berselancar

Pada lautan nasib yang penuh dengan buih
Lilin berkepala air
Ia lepas cengkeraman panas

Menatap ke bawah
Telapak tangan ke bawah
Lantas, apa itu pulang?

Apa itu pergi?
Apa itu?
Apa?
Itu?

Yogyakarta, 2021.

Salah Arah

Bekas pastelmu masih kau campakkan di depan kanvas
Belum ada goresan apa pun yang menggurat ruang kosong itu
Kau sendiri yang mencampurkan warna itu hingga menjadi yang warna
Inginku campur warna kesukaanku tapi kau pasti menolaknya

Suara kesukaanmu adalah jangkrik tapi seringkali kesepian mencekikmu
Maka kau putuskan untuk tak menyukainya
Kau menyukai warna biru tapi seringkali kesedihan merangkulmu dari belakang dan kau memutuskan untuk tak menyukainya

Kau menyukai buah kersen yang jatuh sebelum ranum itu kan?
Tidak, aku lebih menyukai warna, yah…
Warna yang warna

Berada di antara ruangmu saja aku sengaja berganti kulit
Meniadakan riak dari serat-serat lidah

Jalan-jalan tidur
Rumah terbakar
Ada yang hilang di telaga matamu
Salah arah atau selalu kalah?

Yogyakarta, 2021.

Anjangsana

Bercermin pada wajah yang lain,
Ia melakukannya dua kali dalam seminggu.
Ia mengalir bukan seperti sungai tapi lebih ke arah laut memiliki anak gelombang dan pasang-surut.

Dari benderang ke kegelapan aku diam merayap bukan seperti cicak melahirkan ular yang berbisa berjenis sianida
Menatap sedikit dingin dan cair sebelum kutub utara membentangkan sayap dinginnya.

Suara burung camar berkumandang tentang sore yang bertemu malam.
Angin menjelma angan
Yang hadir di hadapan biru dan abu.

Hujan meninggalkanmu di pagi yang belum matang, memasang doa-doa keselamatan.
“Apakah hadirku bencana bagimu, Spencer?”.
Kuharap kau salah telah memandangku sebagai bunga puisimu.

Subang, 1 November 2020.

 

Syamsul bahri
lahir di Subang 12 Juli 1995.
Sekarang tinggal di Yogyakarta.
Sajak-sajaknya pernah tersiar di berbegai platform media daring dan luring.
Salah satu puisinya termuat dalam antologi bersama, antara lain:
Carpe diem (Penerbit Halaman Indonesia, 2020).
Buku pertmanya adalah Dandelion untuk Nala! (G Pustaka, 2020).
Bisa dihubungi dan di temui di: Surel: syamsulb725@gmail.com. IG: @dandelion_1922.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *