Mutiara Hitam yang Mendewasakan Peradaban Kita

Mainmain – Kebiasaan meminum kopi, nyatanya tidak pernah dibarengi dengan pemahaman tentang sejarah kopi itu sendiri. Paling banter, kita hanya sekedar bisa membedakan kopi berdasarkan rasa. Kebiasaan menilai kopi secara sederhana seperti ini, pada akhirnya mendorong kita menjadi orang yang pemalas untuk belajar lebih dalam tentang kopi. Kebiasaan semacam itu pula lah yang menjadikan kita pandir dan fakir. Alih-alih mencerdaskan, kita dibiasakan untuk mengikuti suara yang diamini mayoritas.

Sewaktu kecil, kopi adalah minuman yang dilarang oleh orang tua saya. Pasalnya, minuman ini dianggap kurang baik jika dikonsumsi oleh anak-anak. Alasannya karena efek kopi akan membuat peminumnya jadi insomnia dan gelisah. Hal itu selanjutnya dijadikan legitimasi orang tua saya untuk membatasi pengonsumsian kopi.

Selain kekhawatiran tak berdasar itu, rumor yang berkembang di tempat tinggal saya, kopi disebut sebagai minumannya bapak-bapak. Karena dianggap hanya cocok jika dinikmati sambil menghisap rokok. Kekhawatiran lainnya, meminum kopi pada malam hari dikhawatirkan menyebabkan masalah pencernaan dan tekanan darah tinggi. Dengan sekian kekahwatiran tersebut, menggenapi masa kecil saya untuk menjauhi kopi serta seluk-beluknya.

Namun, ada pengalaman yang paling membuat saya berbahagia dan membuat hati saya berbungah, setelah saya membaca novel Babad Kopi Parahyangan, karya Evi Sri Rezeki. Novel ini membuat saya begitu dekat dengan yang namanya kopi. Setelah masa kecil saya yang berjarak—sekaligus membuat saya heran—dengan kopi, terjawab tuntas setelah membaca novel ini.

Tidak hanya itu, novel ini juga yang membuat saya nantinya mampu menjawab sekian pertanyaan yang muncul, ketika menyinggung kebiasaan saya meminum kopi dewasa ini. Kopi yang mulanya saya anggap sebagai hal yang sederhana, ternyata mengandung dan memendam hal yang pelik. Selain berbicara soal rasa, nyatanya kopi juga menyimpan soal duka dan lara. Begitu banyak pengorbanan yang telah dikorbankan, sehingga kopi bisa kita nikmati seperti sekarang.

Novel ini mengingatkan saya pada buku kumcer Iksaka Banu, yang berjudul Semua Untuk Hindia. Di kata pengantar buku itu, Iksaka Banu percaya, bahwa nasib fiksi berlatar sejarah, terutama sejarah kolonial, tampaknya tidak sesuram yang kita duga. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sejarah kolonial adalah hal yang jarang sekali disentuh oleh awam. Karena sangat identik dengan deretan tahun, angka, serta nama-nama asing yang membuat pusing kepala ketika ingin menghapalnya. Di tangan-tangan penulis fiksi, sejarah yang terkesan kaku dan seram itu, akhirnya bisa cair dan diterima oleh semua kalangan.

Kopi, antara Eksistensi dan Paradoks

Sejarah yang terekam dalam tulisan fiksi tidak akan berakhir dengan hitam-putih. Sejarah bisa saja hadir dalam warna abu-abu, dan sarat warna, sekaligus paradoksal. Melalui novel Evi ini, sejarah kolonial yang pernah terjadi di bumi Nusantara dan bumi Parahyangan khususnya, datang kembali kepada kita dalam bentuk yang sama sekali baru, dan terasa begitu manis. Meskipun begitu, Evi tidak lupa pula menyisipkan rasa pahit di dalamnya. Sama halnya dengan kopi, jika terasa manis tetaplah harus mengandung pahit, agar tak kehilangan rasa kopinya.

Dalam hal ini, si penulis menjadi seorang yang amat cekatan meracik narasi sejarah yang seringkali penuh konflik. Sudah cukup kiranya kronik menang-kalah yang mewarnai catatan sejarah kita. Sejarah harusnya tidak lagi sekedar menjadi sebuah nostalgia, akan tetapi sudah harus menjadi tilas yang membangun peradaban kita hari ini.

Mari perhatikan salah satu dialog yang menggambarkan keadaan kompeni dan penguasa pribumi waktu itu: Ketika manusia telah mencapai puncak, ia melihat puncak yang lain. Ingin meraihnya dengan berbagai cara. Senyatanya patutlah kita bertanya, di manakah puncak sesungguhnya berada? “Manusia yang tak puas berada di puncak mencipta tirani buat melanggengkan kedudukan. Menyedot daya si lemah. Mengerangkeng manusia lain jadi tumpuannya (hlm 37). Dari dialog tersebut, kentara bahwa kopi tidak hanya sekedar komoditi yang menguntungkan, akan tetapi mampu memacu manusia membangkitkan hasrat menguasasinya.

Buku yang dutulis setelah melewati masa enam tahun meriset dunia kopi ini, membuat penulisnya, tetap setia kepada temuan para sejarawan. Bisa disebut, dalam berfiksi pun sikapnya masih tetap ilmiah. Setiap babak adegan dalam buku ini, membawa kita untuk memahami sejarah lintas daerah. Kita dipaksa untuk memahami pertautan antar budaya dan relasinya dengan komiditi kopi yang kita miliki. Hingga akhirnya menghantarkan kita pada pemahaman bahwa, kopi adalah komoditi yang pernah membuat nama Indonesia mendunia.

Kopi, dalam sejarahnya adalah minuman mewah yang hanya boleh dinikmati oleh para penguasa. Tokoh si Ujang dalam novel ini, adalah penggambaran nyata bagaimana rakyat kala itu begitu was-was ketika ingin mengkonsumisnya. Siapa sangka, jika yang kita sebut kopi luwak hari ini, adalah minuman yang lahir dari kondisi dengan serba keterbatasan. Waktu itu, mengkonsumsi kopi secara terang-terangan adalah bentuk pelanggaran. Oleh karenanya, rakyat kecil yang ingin menikmati kopi hanya bisa menyiasati dengan mengumpulkan kopi dari tahi luwak.

Kondisi penuh paradoks itulah, yang membuat kita terseret ke dalam kisah-kisah hidup dari setiap tokoh yang ada di buku ini. Sampai akhirnya kita tersadar, kopi tidak hanya membuat Indonesia punya eksistensi di mata dunia. Akan tetapi, juga menyiratkan banyak cerita dari semua orang yang pernah bersinggungan dengannya. Dengan demikian, meski kisah yang disajikan kadang mengahrukan dan menegangkan, kita tetap diposisikan oleh Evi di luar sebagai pengamat yang obyektif, tanpa mampu mempengaruhi narasi yang dibangun olehnya.

Kopi, Komoditi yang Mendidik dan Menyengsarakan

Kopi tidak hanya lezat saat dinikmati dan dibicarakan cita rasanya. Kita juga bisa merasakan kelezatannya, jika mengulik banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Mulai dari proses menamam, merawat, memanen, mengolahnya menjadi bubuk, sampai dengan cara penyajian, hingga akhirnya bisa sampai ke dalam cangkir untuk kita minum.

Selain mendidik kita menjadi manusia yang gandrung akan minuman pahit ini, di dalam perjalananya, kopi telah banyak menyengsarakan rakyat pula. Tidak terhitung kiranya nyawa yang meregang dan hilang, hanya agar “mutiara hitam” ini tetap bertahan. Tidak hanya harga yang besar yang harus kita bayar. Melalui novel ini, kita kembali diingatkan tentang perngorbanan para petani yang terus dihisap darahnya dan dipatahkan tulangnya. Dan pembedaan karena merasa lebih elite, jika meminum kopi di tempat semacam Starbuck ketimbang di warung kopi konvesional, saya pastikan segera berakhir jika telah membaca buku ini—itu pun jika yang membaca sadar.

Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas, menyatakan bahwa pendidikan harusnya langsung bersentuhan dengan realitas. Ketimbang hanya menghitung angka yang sekedar khayalan, Paulo Freire menyarankan pendidikan yang mengugah kesadaran. Berangkat dari semangat kesadaran akan penindasan pula lah, Babad Kopi Parahyangan mendidik setiap pembacanya agar selalu peduli dengan kaum yang tertindas. Terlebih dengan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan.

Selanjutnya, Evi mampu melihat celah yang selama ini belum tertambal oleh para pengamat sejarah, terlebih sejarah kolonial. Betapa seringnya kita mengamini bahwa, solusi dari pembodohan yang dialami rakyat kala itu adalah sebuah sekolah. Babad Kopi Parahyangan mengajak kita untuk sedikit lebih pintar, dan mencoba mempertanyakan ulang hal yang kita amini sebelumnya.

Salah satu buktinya adalah ketika, Evi menggambarkan kondisi petani perkebunan kopi yang tidak mampu lagi bekerja diiming-imingi kenikmatan di kemudian hari, jika dirinya lebih menuruti kemauan dari para kompeni dan penguasa pribumi waktu itu. Inilah yang bisa disebut dengan “penindasan menjadi dongeng kemegahan.” Nyatanya, solusi dari pembodohan yang rakyat terima waktu itu tidak sederhana, dan bukan hanya berbentuk sekolah. Evi malah dengan piawainya membalik logika pembaca, bahwa pendidikan bagi kaum yang tertindas waktu itu justru “kepecah-belahan.”

Aneh bukan? Tapi menjadi masuk akal jika kita memahami apa yang dimaksud Evi di sini. Singkat kata, politik pecah-belah memang menyengsarakan rakyat waktu itu. Akan tetapi, politik pecah-belah secara tidak langsung juga mendewasakan kita. Karena berawal dari pecah-belah itu lah, yang pada akhirnya menyatukan kita, dan membuat kita memandang penjajahan adalah bentuk penistaan terhadap kemanusiaan.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, saat pidato pada Konferensi Peringatan 20 Tahun Wafatnya Lu Xun (1956): “Lu Xun adalah suara bangsa dan rakyatnya. Ia adalah perwujudan dari kebangkitan jiwa yang penuh dengan harapan-harapan mulia bagi manusia. Ia bukan cuma berharap; ia menempuh metode yang paling baik dan paling tepat—kesusastraan—dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya.”

Beda Lu Xun, beda pula dengan Evi Sri Rezeki. Evi bukanlah sosok perwujudan dari perjuangan rakyat Indonesia waktu itu. Namun, Evi adalah penulis yang saya kira mampu untuk menyamai Lu Xun ketika menuliskan sejarah dalam bentuk fiksi. Mungkin saja ini terkesan terlalu berlebihan. Akan tetapi, pembaca bisa menentukan sendiri jika membaca buku Babad Kopi Parahyangan ini, terlebih jika dibaca sambil menikmati kopi.

Rentang waktu enam tahun penulisnya dalam meriset kopi, saya kira berbuah manis menjadi buku Babad Kopi Parahyangan, yang digadang menjadi tetralogi ini. Kisah yang tersaji memang kisah-kisah lama, tetapi, Evi mampu menulisnya ulang dengan gaya yang sama sekali baru. Novel ini pada akhirnya tidak hanya menjadi murni novel sejarah. Ia menjelma novel sejarah yang dibumbui dengan kisah roman. Dan yang paling mengejutkan, tebakan besar saya, lanjutan novel ini alurnya akan menyamai film In the Shadow of the Moon. Film yang bergenre dan sangat menekankan unsur science fiction.

Pada akhirnya, saya menyadari keterbatasan dari penilaian saya yang subjektif ini. Terlepas dari itu, semuanya dikembalikan lagi pada pembaca. Ingin menganggap fiksi hanya sekedar fiksi, atau menganggap fiksi sebagai bagian dari sejarah kita, itu terserah kepada pembaca. Saya rasa, membaca novel ini tidak bisa berhenti pada kagum dan terkesan. Tetapi menjadi tugas kita semua nantinya, untuk terus menghidupkan semesta novel sejarah sebagai warisan dan kekayaan yang kita punya.

IDENTITAS BUKU
Judul: Babad Kopi Parahyangan
Penulis: Evi Sri Rezeki
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Februari, 2020
Tebal: i-x+348

Oleh : Rio Anggi Fernando
*Tulisan ini sudah pernah terbit di detik.com

Check Also

Menjawab Teka-Teki Gaya Hidup di Tengah Overdosis Intelek

Jika kita berkunjung ke suatu tempat—bisa toko buku, perpustakaan atau kos teman misalnya—dan melihat buku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *