Membincang Mojok.co yang Banyak Nakal Ketika Terpojok
Membincang Mojok.co yang Banyak Nakal Ketika Terpojok

Membincang Mojok.co yang Banyak Nakal Ketika Terpojok

Mainmain – Sebelum memulai tulisan ini, saya terlebih dulu ingin berterima kasih kepada bang @hansdavidian yang membuat jagat dunia twitter Indonesia ramai hari ini. Cuitanya yang mengomentari tidak layaknya upah yang diberikan situs mojok.co pada para penulis di terminal mojok, membuat saya serta partner saya tidak bisa diam saja, dan memilih ikut andil mengomentari masalah tersebut. Saya juga mengakui keberanian beliau mengulik hal tersebut, meskipun pada akhirnya harus berhadapan dengan orang yang lebih memilih membela Mojok.

Pertama-tama, mari kita telisik lebih jauh dua perbedaan cara pandang mengenai upah menulis yang diributkan itu. Cara pandang perama, bang @hansdavidian, tidak sepakat apabila setiap tulisan dihargai dengan nominal 20 ribu. Dari yang saya tangkap, beliau menganggap hal tersebut sungguh tidak manusiawi, dan sangat berbanding terbalik dengan kriteria mojok yang sangat memanusiakan manusia. Hal tersebut sah saja, apabila kita memakai standar kelayakan, dengan asumsi bahwa setiap tulisan itu seharusnya dihitung dari upaya dan kesungguhan si penulis dalam menciptakan sebuah tulisan.

Baca Juga :
MAKAN PAGI PITO
Belajar dari Mimpi yang Akhirnya Terwujud

Namun, penjelasan—yang jika tidak bisa disebut sebagai pembelaan—oleh seluruh kru dan para awak pengklarifikasi, juga sah-sah saja menurut saya. Sebab, perbandingan yang dipakai di sini adalah perbandingan situs terminal mojok dengan kompasiana dan kaskus. Belum lagi, keluar cletukan bahwa pembayaran dengan nominal segitu adalah terobosan baru di Indonesia. Ditambah lagi, cletukan yang memberitahukan bahwa itu adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh tim mojok sendiri, jadi, ya sah-sah saja kawan-kawan.

Intinya, selagi itu kebijakan dikeluarkan oleh si pembayar, maka sah-sah saja. Sebab, juga belum ada yang mengatur standar layak honor tulisan sampai hari ini, bukan? Nah, maka dari itu, penjelasan oleh mojok bisa kita terima dulu ya sampai di sini.

Baca Juga :
Rangkulan Sulung untuk Sulung
Amerika; Negara Super Power yang Kesepian

Tapi eh tapi, sebagai orang yang mulai menekuni dunia digital dan per-website-an, saya belum lama sadar ada hal menarik yang justru belum banyak orang tahu soal mojok loh. Seperti yang kita ketahui bareng-bareng, usia mojok sudah lebih dari 5 tahun. Untuk sekelas website indo, usia lima tahun dan terus viral bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh usaha dan kerja keras untuk menaikkan website sampai di peringkat teratas. Yah selain memang butuh modal besar, tentu saja banyak hal lain yang harus dilakukan untuk mempertahankan rangking website.

Untuk hal ini, saya juga bisa merasakan bagaimana rasanya jika website kita sepi visitor. Sedih, galau, bingung, gundah gulana, dan masih banyak yang lainnya. Dan cara mudah untu mengatasinya adalah, kita harus membakar uang di depan, atau dengan mengiklankan produk (website) kita agar bisa ramai dikunjungi. Rumusnya adalah, semakin banyak dan seringnya kita menginklankan website kita, kemungkinan besar—meskipun tidak pasti, tergantung benar tidaknya cara menginklankan—visitor website ktia akan semakin bertambah.

Baca Juga :
Agama Itu Seharusnya Penuh Cinta
Pemulihan Wisata Pasca Pandemi Covid-19

Kalau mau ditarik rumusannya lebih jauh, bagi para penggiat website atau yang akrab disapa blogger, dengan membakar uang di depan, maka semakin tinggi pula penghasilan yang akan didapat. Pertanyaannya, dari mana penghasilan yang besar itu? Karena dalam cuitannya bang @hansdavidian menyinggung hal tersebut (penghasilan), maka akan saya bagi sedikit yang saya tahu.

Penghasilan besar yang didapat dari kebanyakan blogger, biasanya berasal dari iklan yang terpasang di website. Akan tetapi, bukan hanya iklan yang terpasang saja, melainkan iklan yang harus diklik. Hal ini bisa kita sebut sebagai simbiosis mutualisme yang terjadi di tiga pihak. Pihak pertama penyedia website, pihak kedua penyedia jasa iklan, dan pihak ketiga yang mengiklankan produknya. Dari proses terpasang dan dilklik iklannya oleh si pencari produklah penghasilan besar tadi bisa muncul.

Baca Juga :
Upaya Merawat Ingatan dan Mengolah Renungan
Generasi Milenial

Khusus situs mojok.co, tentu kita tahu hal itu tidak berlaku. Sebab, di situs mojok tidak ada iklan yang terpasang, apalagi untuk kita klik. Nah, yang saya maksud tadi, kira-kira dari manakah penghasilan besar mojok yang dipermasalahkan oleh bang @hansdavidian? Apakah layak kalau kemudian kita menyimpulkan bang @hansdavidian salah dalam menilai? Lantaran mojok.co juga tidak punya penghasilan yang kelihatan dari situsnya.

Akan tetapi, sebelum memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah, tentu banyak pertimbangan yang perlu kita tentukan. Dalam masalah ini, saya tidak ingin mendukung siapa-siapa dan menyebut siapa yang lebih benar. Saya hanya berniat memperkaya cara pandang semata. Sebab, masih banyak sisi kelemahan dari ribut-ribut soal honor tulisan tersebut. Apalagi yang mengaitkan dengan embel-embel kapitalisme segala.

Baca Juga :
Merdeka 100% dari Pandemi dan Tirani
Monster Sampah

Bagi saya, tidak ada yang lebih baik dari yang bukan kapitalisme ketimbang kapitalisme. Semuanya punya sisi kekurangan masing-masing. Tidak ada yang lebih mulia selagi ia masih merugikan orang lain, dan lebih menguntungkan diri sendiri. Mau apa pun ideologinya, saya lebih memilih yang bermanfaat dan tidak merugikan. Bukan kekeh dengan cara pandang saya yang saya anggap paling benar.

Kembali kepada topik utama persoalan, mojok pun sebenarnya tidak selalu benar saya rasa. Beberapa bulan yang lalu, saya masih ingat dengan jelas instastori Ronny Agustinus—pendiri penerbit Marjin Kiri—yang mengkritik mojok. Sayangnya, saya tidak punya bukti fisik mauapun digital tentang hal itu. Tetapi yang jelas, dalam instastori tersebut, saya ingat sekali Ronny mengeluhkan perihal mojok yang mulai banyak nakalnya, tetapi sudah sedikit akalnya. Kritikan Ronny tertuju kepada artikel yang diposting mojok yang berisi soal isolasi orang-orang positif Corona di suatu pulau terpencil.

Baca Juga :
Rangkulan Sulung untuk Sulung
Amerika; Negara Super Power yang Kesepian

Saya sangat setuju dengan kritikan Ronny waktu itu. Meskipun pada akhirnya krtikan tersebut tidak menjadi viral. Berangkat dari hal ini, apakah bisa kita sebut bahwa kritik yang dilakukan oleh Ronny tidak lebih penting dari kritik bang @hansdavidian? Tentu saja tidak. Sebab viralnya suatu kritik juga tidak berangkat dari penting-tidaknya kritikan tersebut. Atau lantaran kritikan tersebut dilakukan oleh siapa dan seperti apa isinya.

Percayalah, yang lebih menarik dari suatu kritik ialah cara ketika menanggapi sebuah kritikan yang sedang berlangsung tersebut.

Seperti thread twitter viral lainnya, thread bang @hansdavidian menjadi lebih menarik karena komentar-komentar dari orang lain. Sebut saja, salah satu komentar yang bernada membela mojok, yang menyatakan bahwa bang @hansdavidian adalah orang resek yang mengusik rumah orang. Hallo, dengan segala hormat, komentar seperti itu sebenarnya kurang tepat. Lantaran website tidak sepenuhnya menjadi rumah pribadi. Meskipun kepemilikannya jelas, ia berada dalam dunia digital yang siapa saja bisa masuk dan keluar sesuka hatinya.

Sebagai penutup, saya juga amat menyayangkan sekian banyak orang yang membela mojok, padahal tidak tahu aslinya mojok seperti apa. Membela boleh saja, asal benar-benar tahu aslinya yang dibela. Jika tidak tahu aslinya seperti apa, lantas apa bedanya dengan orang yang fanatik buta terhadap agamanya?

Baca Juga :
MAKAN PAGI PITO
Belajar dari Mimpi yang Akhirnya Terwujud

Pertanyaannya, apakah mojok sudah menjadi agama baru hari ini? Kalau iya, ya silahkan saja dihayati. Dan terakhir, coba cari tahu dulu besarnya dana yang bisa menghidupi website sebesar itu sampai hari ini datangnya dari mana? Jangan bicara idealisme dan independen apabila aslinya masih memakai donatur!~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *