Analisis Temuan Problem di Desa Bungah Gresik
Analisis Temuan Problem di Desa Bungah Gresik

Analisis Temuan Problem di Desa Bungah Gresik

Mainmain – Desa Bungah terletak di sebuah wilayah kota Gresik, tepatnya di antara Kecamatan Manyar, Kecamatan Sidayu dan Kecamatan Dukun. Letaknya berdekatan dengan sungai Benganwan Solo. Nama Bungah diartikan “Bahagia” dalam bahasa Jawa. Ada pula yang mengaitkan dengan “Bongoh”, yang berarti kelapa dalam beberapa lingu Franca Nusantara.

Kecamatan Bungah juga terkenal sebagai pusat produksi peci atau kopyah dan Rebana. Masyarakat desa Bungah 30% berprofesi sebagai guru, 20% berprofesi pengerajin rebana dan peci, selainnya bekerja di luar sepeti di pabrik mie, pabrik coklat, pabrik maspion, pabrik petro dll. Gresik sendiri termasuk kota industri, jadi tidak heran jika banyak dari warga Gresik sendiri bekerja di pabrik. Banyak sekali yang merasa tergiur akan gaji UMR. Memang, gaji UMR di kota Gresik ini bisa terbilang cukup besar, kisaran 3,9 – 4 juta.

Di desa ini, kondisi para pemudanya banyak yang tidak meneruskan sekolah. Kebanyakan dari mereka tergiur gaji yang tinggi, ditambah lagi beberapa orang yang merasa kurang mampu untuk kuliah. Padahal, kondisi sekarang memungkinkan untuk kuliah, sebab banyak sekali beasiswa. Keadaaan ini juga menggambarkan zaman dahulu, di mana anak–anak tidak berfikir panjang tentang masa depan mereka, terlebih untuk melanjutkan ke sekolah yang yang lebih tinggi.

Setelah masa SMA, kebanyakan dari mereka memutuskan untuk putus sekolah, dan lebih memilih bekerja sebagai buruh di pabrik dan membantu orang tua. Di benak mereka, sekolah tinggi hanya akan membebani kedua orang tua dan memakan biaya yang cukup mahal. Bahkan, beberapa anak perempuan dari mereka sudah dijodohkan sedari kecil oleh kedua orang tuanya.

Sebenarnya, sangat miris melihat keadaan seperti ini. Alasannya karena orang tua tidak bisa membiayai anaknya untuk sekolah—tetapi juga tidak ingin anaknya bekerja—akhirnya mereka dinikahkan. Dari kebanyakan para orang tua di sana, berpikir jika anak mereka tidak perlu bekerja, mereka hanya perlu dinikahkan saja, kepada orang yang sudah mapan agar hidup anaknya tidak melarat atau kesusahan.

Anggapan seperti itu akan terpatahkan, apabila kita menganggap aktivitas belajar sangatlah penting bagi semua kalangan. Sebab tidak memandang usia tua maupun muda, semuanya harus tetap belajar. Apalagi di zaman yang sudah modern seperti ini, banyak sekali teknologi baru yang berkembang. Tetapi, tidak dapat dipungkiri pula bahwa minat belajar sekarang sudah mulai berkurang.

Kondisi ini tentunya menjadi faktor tambahan yang membuat tidak memungkinkan bagi mereka untuk bisa menempuh pendidikan. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja rasanya sulit bagi para anak-anak ini, apalagi menyisihkan biaya dan tenaga untuk menuntut ilmu. Alhasil, mereka ini menjadi anak yang kurang terdidik dan memiliki kesempatan rendah untuk dapat meningkatkan kondisi mereka.

Tujuan pendidikan adalah untuk membantu mengembangkan potensi yang dimiliki setiap individu untuk dikembangkan, yang harapannya akan berguna untuk masa yang akan datang. Anak merupakan aset untuk masa depan bangsa yang harus dilindungi, serta diberikan hak-haknya untuk menunjang masa depannya menjadi lebih baik.

Dalam hal ini, anak yang dimaksud adalah seorang manusia yang berumur kisaran antara 6-18 tahun. Yang memiliki ciri fisik masih berkembang dan memerlukan dukungan dari sekitar, seperti sekolah, lingkungan bermain, dan yang paling utama adalah dukungan dari keluarga. Tiga elemen seperti keluarga, sekolah, dan lingkungan bermain, sangat dibutuhkan juga berkewajiban memenuhi kebutuhan atau hak anak. Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak anak yang belum terpenuhi dengan baik kebutuhannya dari ketiga elemen tersebut. Faktornya kebanyakan ialah latar belakang keluarga dari ekonomi yang rendah atau miskin.

Rendahnya tingkat ekonomi keluarga, mengakibatkan anak harus ikut turun ke jalan demi mendapatkan apa yang dicari. Anak rela mengamen, meminta-minta demi mendapatkan uang untuk dirinya dan untuk keluarganya. Bahkan, demi mencari uang, anak rela meninggalkan bangku sekolah. Padahal, anak wajib dan berhak mendapatkan pendidikan. Seperti tercantum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang hak dan kewajiban anak, pasal 4 sampai pasal 18 tentang hak anak.

Adapun hak anak antara lain, beribadah menurut agamanya, mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh pendidikan dan pengajaran, mengutarakan pendapatnya sesuai tingkat kecerdasan dan usianya, memanfaatkan waktu luang untuk bergaul dengan anak sebayanya, bermain, berekreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya dalam rangka mengembangkan diri.

Dengan adanya aturan hak dan kewajiban anak dalam undang-undang, diharapkan anak mendapatkan hak dan kewajiban tersebut. Negara, keluarga, dan masyarakat diharapan mampu melaksanakan sesuai yang telah ditetapkan atau diatur. Dengan pendidikan, akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mempunyai karakter dan disegani oleh bangsa lain. Pendidikan yang diajarkan terhadap generasi penerus bangsa akan membangun karakter yang baik.

Karakter sendiri merupakan nilai dasar yang membangun pribadi seseorang. Kepribadian yang baik akan terbentuk karena pengaruh dari lingkungan, pendidikan, maupun lingkungan bermain. Dengan pendidikan yang mempunyai konsep dan model yang baik, maka karakter anak akan berubah. Sehingga, pendidikan yang didapatkan anak akan diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, walaupun anak berada dalam lingkungan yang berbeda, seperti lingkungan masyarakat.

Di dalam pendidikan, perlu juga adanya pemahaman tentang pentingnya menempuh pendidikan. Agar mereka juga bisa mempertimbangkan kembali, jika berpikir atau punya keinginan meninggalkan bangku sekolah. Motivasi, perhatian dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait juga sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak dan pemenuhan segala yang menjadi haknya.

Namun, pada kenyataannya masih banyak anak tumbuh dan berkembang tanpa diperhatikan pemenuhan segala sesuatu yang menjadi haknya. Banyak anak yang harus putus sekolah, dan terpaksa bekerja untuk menambah pemasukan ekonomi di keluarga. Sehingga, anak kehilangan waktu untuk belajar, bermain, dan bergaul dengan teman-teman seusianya.

Hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan sangatlah penting dan perlu ditanamkan kepada anak-anak, agar kelak tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif. Karena zaman dari tahun ke tahun semakin modern, pastilah ada sisi positif dan negatifnya. Dengan adanya bimbingan yang baik untuk anak jalanan, diharapkan mereka bisa menjadi orang yang baik pula dengan tertanamnya pendidikan yang positif.

Karya : Ryan Hidayat
Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisni Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.
Tinggal di kota Bangkalan.
Bisa dihubungi dan ditemui di
Instagram: @ryaaann_h, Email: popeyeryan10@gmail.com

Check Also

Toleransi antar Umat Beragama

Toleransi antar Umat Beragama

Apa sih Toleransi Itu? Toleransi menurut bahasa berasal dari kata latin Tolerase yang bearti dengan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *