Pada Suatu Hari Kematian [mainmain.co]
Pada Suatu Hari Kematian [mainmain.co]

Pada Suatu Hari Kematian

Mainmain – Seingatku, langit di hari selasa pada waktu itu sangat tidak konsisten. Beberapa kali mendung lewat, sekilas seperti akan hujan deras, namun hanya gerimis, lalu cerah. Kemudian mendung lagi. Terus berganti-ganti dalam sehari.

Selain itu, yang kuingat lagi adalah tepukan seseorang di bahuku, berusaha membangunkan dengan cepat. Subuh itu, kesadaranku langsung kembali ketika mendengar tangis dan jeritan seorang perempuan. Sensasi tepukan dan suara yang begitu tidak menyenangkan, lebih dari dobrakan pintu yang sangat keras selama 6 tahun berturut-turut.

SERIAL IQ84

Beberapa waktu lalu, aku baru saja menyelesaikan serial 1Q84 milik Haruki Murakami. Dia begitu piawai menggambarkan kehidupan orang-orang Jepang yang sepi dan individualis. Tidak hanya dalam 1Q84, di buku nya Norwegian Wood dan Dengarlah Nyanyian Angin pun begitu. Para tokohnya menarik diri dari banyak hal dan cenderung tidak ingin terlibat dalam kehidupan orang lain. Seakan kehidupan individu mereka sudah cukup rumit untuk diurus.

Tapi bukan itu yang ingin kuulas dalam tulisan ini. Aku justru tertarik dengan kematian seorang tokoh yang sebenarnya dari awal pun tidak diinginkan kehadirannya. Tokoh antagonis, sederhananya. Tapi jika dibilang antagonis, dia tidak lebih dari pesuruh atau kaki tangan orang lain. Dia dianggap buruk karena orang lain. Jadi mungkin bisa dibilang tidak terlalu antagonis.

Baca Juga :
Tanpa Jawaban, Sajak Hati, Elok tak Berguna, Lilin yang Kecewa
DESA MANDIRI, DESA MEMBANGUN

Dia mati pada tengah malam bulan Desember yang dingin. Di dalam kamar apartemen, tempat persembunyian sementaranya untuk melakukan sebuah pengintaian. Entahlah, sebenarnya dia berhak mati atau tidak. Tapi mungkin jika pun dia dibiarkan hidup sedikit lebih lama, cerita dalam novel itu hanya akan semakin panjang dengan akhir yang berbeda.

Dasar Laut. Aku mangambil istilah yang digunakan Tamaru untuk membuat korbannya mati dengan lemas dan kehabisan napas. Si korban, lelaki antagonis itu. Cara membunuh hanya dengan menggunakan kantong plastik tebal pembungkus makanan beku di kulkas. Tamaru mengirim korbannya ke dasar laut. Berusaha menahan oksigen yang susah payah masuk ke dalam paru-paru.

Lelaki yang menyedihkan. Dengan kisah hidup dan kematian yang menyedihkan pula. Tapi barangkali itu lebih baik daripada hidup dengan berbagai macam penderitaan. Jika aku menjadi dia, sepertinya akan lebih logis berfikir begitu.

Baca Juga :
Hidup Itu Perjuangan
Romantisme dalam “Aku Ingin”

Setidaknya di menit-menit terakhir kematiannya, dia masih mengingat sesuatu. Ya, kenangan.

Di dalam kepalanya yang nyaris meledak, Ushikawa memikirkan rumah kecilnya di Chuorinkan dan kedua putri kecilnya. Juga anjing piaraan mereka. Dia tidak pernah suka kepada anjing kecil pendek panjang itu. Anjing itu pun tidak suka kepadan Ushikawa. Anjing yang bodoh dan suka menggonggong. Sering menggigiti karpet, senang kencing di lantai baru koridor rumah. Beda sekali dari anjing kampung yang pintar piaraan Ushikawa pada masa kanak-kanak. Biarpun begitu, hal terakhir yang terbayang di benak Ushikawa sebelum meregang nyawa adalah anjing kecil bodoh itu berlari-lari di halaman berumput.

Hmm, tapi jika dia seorang bayi kira-kira apa yang dipikirkan ketika menemui kematiannya? Bahkan ketika kepalanya belum bisa merekam memori dengan baik. Bisa jadi hanya seperti berpindah tempat tidur saja. Toh, memang bayi lebih sering tidur, bukan?

Aku jadi berfikir bahwa kematian memang justru bisa menarik kenangan-kenangan tertentu. Tidak harus yang menenangkan, bukan pula yang menyakitkan. Random saja. Toh, tidak ada tolak ukur atas setiap kenangan. Kenangan dan perasaan bersifat personal dan subjektif.

Baca Juga :
Aku yang Lain
Absurditas dan Kesiapan Kita

Tapi kata Murakami, rasa sakit tidak mudah disamaratakan. Tiap rasa sakit memiliki ciri khas. Dia menyadur ungkapan terkenal Tolstoy dengan mengatakan bahwa semua kesenangan itu serupa, tapi rasa sakit menyakitkan dengan cara masing-masing. Walau tidak layak disebut beda rasa (hal. 460).

Entahlah, bisa jadi iya, bisa juga tidak. Lebih mudah menyakini bahwa setiap rasa itu tidak memiliki tolak ukur. Ia subjektif dan personal. Kita tidak bisa saling adu siapa yang paling sedih dan siapa yang paling bahagia. Ah, tapi toh, aku pun tidak memiliki latar belakangan pengetahuan tentang kejiwaan atau hal-hal semacam itu. Haha. Jadi, yasudahlah~

Aku merasakan dinginnya bulan Desember. Lebih tepatnya dinginnya kehilangan seseorang — satu jiwa manusia, yang pergi di bulan desember. Rasanya begitu sepi, dingin, dan ada lengang secara tiba-tiba. Desember seakan membawa perasaan ini menjadi semakin terasa nyeri. Dan menyebalkan.

Tapi jika ditanya; kenapa harus di bulan Desember?

Jelas aku pun tidak tahu jawabannya. Tidak ada keterkaitan antara waktu dan peristiwa. Atau barangkali memang aku yang merasa terlampau sulit untuk mengaitkan kedua hal itu. Bisa iya, bisa tidak. Yang manapun bisa ada kemungkinannya.

Baca Juga :
Amerika Negara Super Power yang Kesepian
Rangkulan Sulung untuk Sulung

‘Dingin tidak dingin, Tuhan hadir Kata Tamaru. Menjadi kalimat yang diteriakkan Ushikawa sebelum kemudian ditarik habis napasnya. Mungkin dia ingin menenangkan hatinya sendiri sebelum dengan sengaja membunuh korbannya. Pembunuh yang berulang kali mengucapkan maaf setelah berhasil memastikan korbannya tak bernyawa. “Aku terpaksa,” katanya setelah itu.

Dan aku mengamini itu. Tuhan akan selalu hadir. Sekalipun di bulan Desember yang dingin. Pun di setiap kematian siapapun. Makhluk hidup dengan jenis apapun. Aku percaya, Tuhan selalu hadir di sana. Menjelma sebagai apapun yang Dia kehendaki.

“Seperti tulis Shakespeare,” tutur Tamaru kalem kepada Ushikawa yang kaku dan somplak itu. “Jika kita mati hari ini, tidak usah mati besok, mari kita saling melihat sisi yang baik saja.”

Kali ini aku menyukai Murakami yang mahir mempermainkan hidup dan mati seseorang. Mendekatkan keduanya hingga jaraknya hanya setipis benang. Menganggap kematian seakan sebuah kewajaran, dan yaaah, biasa saja. Hanya saja, kita mungkin memang harus berduka. Sependek apapun waktunya. Sekalipun tidak tampak di muka.

Jadi aku mengatakan kepada diriku sendiri, ‘tidak aneh sekalipun kau tidak menangis pada selasa pagi kala itu.’ Berduka tidak harus dengan menangis.

“Ngomong-ngomong, apakah kalian akan berduka atas kematian Ushikawa?”
“Kami berduka atas kematian siapapun.”
“Berdukalah atas kematiannya. Dia mahir.”
“Tapi tidak cukup mahir. Begitu maksudnya?”
“Tidak ada manusia yang cukup mahir untuk hidup selamanya.”

Dan yaa, tidak ada manusia yang cukup mahir untuk hidup selamanya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *